|
Guru yang Baik Memberi Sugesti, Bukan Dogma, dan Memberi Inspirasi Kepada Anak Didiknya |
|
Ditulis oleh ayah fikadaffa
|
|
Sabtu, 29 Januari 2011 15:15 |
|
Salah satu harapan orangtua menyekolahkan anaknya adalah kelak anaknya akan mandiri. Ya, walaupun dalam kenyataannya kita sering menemukan apa yang dilakukan orangtua bertentangan dengan harapannya tadi. Tapi kita tidak sedang akan membahas hal tersebut. Kenapa sugesti, bukan dogma? Pentingkah sugesti?
Belajar adalah usaha untuk mengembangkan diri. Usaha untuk mengembangkan diri, bukan orang lain. Tentu saja pernyataan ini mengandung arti bahwa belajar adalah kegiatan individual, dilakukan oleh dan untuk diri sendiri, walaupun dalam pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama.
Nah, tugas guru adalah membantu anak supaya bisa belajar, bukan mengajarinya. Hmm, sepertinya ini bertentangan dengan paradigma yang sudah mengakar kuat, guru adalah orang yang pekerjaannya mengajari orang lain.
Bagaimana supaya anak bisa belajar? Memang cukup rumit mengurai benang kusut sistem pembelajaran pasif. Pasif, karena belajar itu dipandang sebagai menerima. Menerima ilmu, menerima materi, menerima rumus, dan menerima yang lainnya. Jadilah proses belajar sebagai aktifitas menampung dogma. Bahkan yang demikian ini tidak bisa disebut belajar. Tidak ada pengembangan diri.
Supaya bisa belajar, anak harus punya kesempatan. Orang disekelilingnya yang menyediakan kesempatan itu. Orangtua dan guru memberi ruang aktivitas yang luas, dan tidak merampoknya dengan sebuah kata, mengajari.
Setelah punya ruang, anak perlu merasa aman dan nyaman. Lagi-lagi orangtua dan guru yang memberi rasa aman dan nyaman. Jangan sampai orangtua dan guru mengikis perasaan ini. Anak akan merasa aman kalau aktivitasnya sesuai dengan tahap perkembangan dan kemampuannya, jelas apa yang dilakukan dan tujuan yang ingin dicapai.
Selanjutnya, untuk bisa belajar anak perlu merasa bisa. Ini sebuah syarat mutlak. Keyakinan bahwa dirinya mampu merupakan bahan bakar yang mampu menghidupkan motivasi dan semangat, juga mengaktifkan neuron-neuron otak. Disinilah sebuah sugesti diperlukan. Guru hendaknya selalu mempompakan keyakinan ini. Tidak hanya lewat kata-kata, tapi juga tindakan dan ekspresi. Misalnya, selalu menunjukkan wajah optimis dan bergairah kepada setiap anak. Tidak ada perbedaan ekspresi ketika berhadapan dengan seorang anak dan anak yang lain.
Saat mendapat sugesti, anak akan merasa dirinya berharga, mampu, dan mendapat dukungan. Hal ini membuatnya lebih mudah melangkah kerja, sebab mendapat kekuatan luar biasa dari dalam diri, yang kemudian membentuk niat yang kuat. Niat yang kuat akan mendapat dukungan dari lingkungan. Semesta mendukung, kata Yohanes Surya.
|
|
|
Lingkungan yang Kondusif Untuk Belajar |
|
Ditulis oleh ayah fikadaffa
|
|
Sabtu, 29 Januari 2011 14:40 |
|
Lingkungan belajar tidak terbatas pada lingkungan fisik saja. Atmosfer yang dibangun juga merupakan faktor lingkungan yang berpengaruh cukup besar terhadap suasana pembelajaran. Suasana kelas merupakan pencerminan gaya manajemen kelas yang diterapkan guru.
Gaya manejemen yang permisif membiarkan anak melalukan apapun yang diinginkan tanpa ada kontrol yang kuat, serta tidak ada dukungan untuk mengembangkan keterampilan belajar. Akibatnya anak secara akademis kurang menguasai dan mempunyai kontrol diri yang lemah.
Gaya manejemen kelas yang otoritarian menekankan pada ‘ketertiban’, suasana yang kaku dan jalinan komunikasi yang buruk. Relasi guru-murid seperti halnya penguasa-rakyat, atasan-bawahan. Dalam kelas seperti ini anak-anak tidak berkembang kemampuan berpikir kreatif karena selalu dibatasi. Cenderung pasif dan tidak percaya diri. Kemampuan berkomunikasi dan mengekspresikan diri juga kurang berkembang.
Gaya manajemen kelas yang lebih baik adalah gaya otoritatif. Dalam gaya ini, anak memperoleh kebebasan tetapi masih ada kontrol-kontrol yang sifatnya tidak membatasi. Guru membuat aturan ataupun prosedur berdasarkan masukan dari anak, serta memberi penjelasan logis kenapa aturan tersebut dibuat.
Suasana kelas dibuat nyaman, dimana anak terbebas dari perasaan tertekan, cemas, dan takut, sekaligus penuh dengan tantangan. Kenyamanan dibangun oleh adanya penerimaan dan perasaan dipahami oleh orang lain. Dalam hal ini, guru memberi teladan bagaimana menerima orang lain apa adanya serta menunjukkan empati dan simpati kepada orang lain.
Penerimaan dan empati melahirkan rasa percaya diri dan menumbuhkan kepercayaan pada orang lain. Selanjutnya, hal ini akan mengangkat harga diri sang anak sehingga bisa mengaktualisasikan kemampuan dengan lebih baik. Ini adalah modal yang sangat berharga bagi kemajuan pembelajaran dan perkembangan kepribadian.
Selain dari sikap yang ditunjukkan warga kelas (dan sekolah), lingkungan yang kondusif juga memerlukan aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan sebagai pagar yang melindungi dari kemungkinan terjadinya penyimpangan.
Ada perbedaan antara aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan. Kesepakatan merupakan usaha-usaha untuk mendukung pemeblajaran yang lancar. Misalnya mendengarkan ketika ada yang sedang berbicara. Kebijakan adalah tindakan yang diambil pada situasi tertentu, untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Misalnya adanya penambahan hari untuk mengerjakan proyek bagi anak yang tidak masuk karena sakit, sejumlah hari dia sakit.
Prosedur menekankan tindakan dan apa yang diharapkan dilakukan anak. Prosedur memberi pedoman langkah-langkah apa yang harus dilakukan anak untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Misalnya berdoa sebelum pelajaran dimulai. Prosedur menghasilkan kestabilan, kendali, dan struktur. Sedangkan peraturan dilengkapi dengan konsekunsi yang jelas jika terjadi pelanggaran. Konsekuensi tersebut merupakan konsekuensi logis yang masuk akal, tidak menyakiti fisik, serta tidak bermaksud untuk mempermalukan.
Fungsi aturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan bukanlah untuk membatasi, tetapi memberikan kepastian dan struktur yang terarah. Anak akan merasa aman bila tahu dalam koridor yang mana boleh beraktivitas.
Supaya efektif, anak perlu tahu secara jelas apa peraturan, prosedur, kebijakan, dan kesepakatan yang berlaku. Akan lebih baik kalau anak dilibatkan dalam pembuatannya. Rasa tanggungjawab akan lebih besar jika anak terlibat.
|
|
Belajar adalah Mengalir, Dinamis, Penuh Risiko, Menggairahkan |
|
Ditulis oleh ayahfikadaffa
|
|
Jumat, 11 Desember 2009 00:07 |
Belajar adalah Mengalir, Dinamis, Penuh Risiko, Menggairahkan

Kalimat ini sangat saya gemari. Saya mendapatkan kekuatan setiap kali saya membaca atau mengucapkannya. Kekuatan magis yang mampu memberi energi untuk selalu semangat pergi ke sekolah. Saya selalu membayangkan bahwa belajar itu tidak kaku. Mengajar tidaklah seperti melaksanakan peraturan atau undang-undang, juga bukan sebuah rencana mutlak, sangat tergantung pada situasi yang dihadapi. Bisa jadi rencana tinggal rencana. Ya nggak apa-apa. Lalu, apakah kita tak perlu mempersiapkan rencana pembelajaran? Tidak juga. Rencana pembelajaran harus dibuat, meski bukan berarti harus ditulis dalam format-format tertentu.
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Baca selengkapnya...
|
|
Habis Gelap Terbitlah Terang(?)
Mungkin R.A. Kartini akan menangis jika melihat bangsa Indonesia saat ini. Tentu saja beliau tidak akan menangisi pemilu legislatif dan semua kejadian yang mengikutinya. Tidak juga bencana alam dan kecelakaan yang datang silih berganti. Beliau akan menangis karena sampai sekarang belum juga terbit terang seperti yang diharapkan. Hanya gelap yang tiada habis-habisnya.
|
|
Baca selengkapnya...
|
BAGAIMANA DULU BARU APA
Apa jadinya kalau di sekolah kegiatan yang berlangsung adalah menghafal? Atau anak (murid) dianggap sebagai wadah yang harus diisi? Bagaimana kalau wadah itu suatu saat akan penuh? Mampukah kemampuan menghafal fakta akan merubah perilaku, menjadikan perilaku menjadi lebih baik? Mampukah seseorang menghadapi kenyataan persoalan kehidupan dengan hafalan dan penguasaan sejumlah fakta? Mana yang kita pilih; anak menguasai dan menghafal sejumlah fakta untuk dapat menjawab soal-soal ujian, atau anak menguasai kemampuan untuk menjawab tantangan jamannya?
|
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
|
|
|