head.jpg
Home Profile Sekolah Metoda Pembelajaran
VISI DAN MISI
METODA PEMBELAJARAN

Belajar Sambil Bermain, Bermain Sambil Belajar…

Eh, Bukan!

Belajar Adalah Bermain, Bermain Adalah Belajar

 

 

        Bermain adalah dunia anak, benarkah? Ya,tentu saja benar. Apakah hanya anak saja yang bermain? Jawaban spontannya pasti ya. Tapi kalau dipikirkan lebih lama sepertinya jawaban atas pertanyaan tersebut adalah tidak.

           Orang dewasapun bermain. Politikus bermain dengan pilihan dan keputusan politiknya. Pedagang memainkan strategi agar mendapatkan untung. Ya, orang dewasapun bermain. Bedanya kita (orang dewasa) mempunyai kosakata yang lain, bekerja.

          Bagi anak-anak, semua aktifitas adalah bermain. Orang dewasalah yang kemudian menginvasi alam pikiran anak-anak dengan kosakata bekerja dan belajar. Ketiga kosakata ini diberi pengertian yang berbeda. Bahkan kemudian semakin disempitkan artinya.

          Jadi sebenarnya bukanlah hal yang nyeleneh bila di SIGM yang ada adalah aktifitas bermain. Tentu saja bukan bermain yang tanpa tujuan. Bermainnya anak SIGM merupakan bermain yang direncanakan, terarah, terkontrol, dan bertujuan.

         

Bagaimana?

          Materi pembelajaran (terutama di kelas 1 dan 2) dikemas dalam setting permainan. Pendekatan tematik di kelas bawah sangat membuka peluang bagi guru membuat setting kegiatan pembelajaran berupa permaianan. 

          Matematika misalnya, tidak selalu harus mengerjakan latihan di buku. Tapi bisa pergi ke kebun, mengamati daun singkong, menghitung jumlah jari tiap daun singkong. Kemudian menghitung lagi kalau ada 2 atau 3 daun singkong berapa jumlah semua jarinya.

          Ketika langkah itu dilakukan, maka gerbang ke pembelajaran tematis sudah terbuka. Matematika bisa digabungkan dengan pelajaran yang lain. Anak mengamati daun singkong, kemudian menentukan perbedaannya dengan daun-daun yang lain. Anakpun sudah belajar Sains.

          Kegiatan selanjutnya adalah mengambil beberapa daun singkong. Untuk apa? Bisa digunakan untuk gambar mozaik, berarti belajar juga Keterampilan Tangan. Masih banyak lagi yang bisa di kembangkan. Kegiatan akhirnya misalnya membuat cerita tentang pengalamannya dengan daun singkong pada hari itu. Bukan hanya menceritakan pengalaman, anak juga distimulasi untuk membumbui ceritanya dengan perasaan atau emosi yang menyertai aktivitasnya.

 

 

Mengapa?

Ø  Belajar akan lebih efektif kalau dalam keadaan fun

Ø  Dengan bermain, anak belajar banyak hal

Ø  Tidak membosankan

 

Aktifitas belajar di kelas bawah (terutama di kelas satu)

sasaran utamanya menumbuhkan kesan positif pada diri anak bahwa dirinya bisa. Citra diri yang positif akan mengantarkan anak menampilkan kemampuan terbaiknya.

          Selain itu juga memberi kesan kepada anak bahwa belajar itu menyenangkan. Kesan ini tentu saja akan berdampak anak ingin selalu belajar. Belajar yang menyenangkan tentu saja.

 

Belajar di SIGM itu...

Ù Aha, Aku bisa!

          Inilah ungkapan kesuksesan anak stelah mengalami proses pembelajaran. Proses ini dimulai dengan ketakjuban, ketertarikan, rasa ingin tahu, dan keberanian mencoba. Tentu saja ada resiko gagal, dan ini yang membuat pembelajaran menjadi menantang. Tidak ada kata menyerah, yang ada coba lagi dan lagi.

 

Ù Belajar Bagaimana Belajar

Anak bukan hanya belajar tentang sebuah atau beberapa materi kurikulum, tetapi mendapatkan pengalaman belajar yang mengasah kemampuan dasar untuk belajar (learning how to learning) dan menghadapi kehidupan.

Kemampuan itu antara lain kemampuan bekerjasama, komunikasi, perencanaan, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan. Kemampuan-kemampuan tersebut akan dapat berkembang bila anak  mempunyai  percaya diri, inisiatif, kreaifitas, dan rasa ingin tahu yang besar.

Belajar bukanlah sekedar penguasaaan materi, tetapi bagaimana memberdayakan potensi dan mengembangkan diri. Materi sebagai sesuatu yang harus dikuasai tidak  ditempatkan sebagai tujuan tertinggi  dalam belajar. Materi merupakan sarana saja, bukan sebagai tujuan akhir.

 

Ù Belajar Dengan Semua Kecerdasan

          Banyak jalan untuk memperoleh pengetahuan. Tujuan utama sekolah adalah memperluas, bukan membatasi, potensi anak. Anak memperoleh ruang menggunakan karunia khusus mereka, disamping terus didorong mengeksplorasi semua tipe kecerdasan.

 

Ù Belajar Menghadapi Dunia Nyata

          Salah satu fungsi sekolah adalah mempersiapkan anak menghadapi dunia nyata. Mereka harus memiliki kepakaan terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial-alamnya. Memahami tantangan yang dihadapi, dan apa yang mampu mereka lakukan.

          Tentu saja perlu karakter yang kuat. Sekolah menjadi salah satu ladang persemaian karakter anak. Anak belajar bertanggungjawab, peduli, dan mengembangkan empati.

 

Ù Belajar yang  Menyenangkan

Dalam Buku The Accelerated Learning (de Porter, Reaeden, Singer) dikatakan bahwa belajar adalah tempat yang mengalir, dinamis, penuh resiko, dan menggairahkan. Belum ada ’aku tahu’ di sana. Kesalahan, kreativitas, potensi, dan ketakjuban mengisi tempat tersebut. Ini berarti bahwa belajar berangkat dari ”aku ingin tahu”. Belajar adalah kegiatan yang dibangun untuk mendapatkan pengetahuan.

          Usaha untuk mendapatkan pengetahuan tersebut  dimulai dengan rasa takjub. Wow, ini sangat menarik bagiku! Begitu kira-kira  teriakan anak yang termotivasi belajar. Ketertarikan dapat dipandang sebagai penemuan manfaat belajar.

          Penemuan manfaat akan menggerakkan anak untuk menyelami fenomena yang ditemui lebih dalam. Ia berusaha untuk terus masuk dan menyerap apapun yang ada. Seluruh kekuatan dikeluarkan dalam proses ini. Kekuatan itulah yang disebut potensi.

          Belajar dengan menemukan manfaat terlebih dahulu membuat potensi diri meletup-letup, hingga pada saatnya menghasilkan sebuah energi yang besar. Maka belajarpun akan terus bergerak, mencoba, mencoba lagi, mencari kemungkinan lain, dan menemukan hal baru. Ini sama dengan selalu mengasah kreativitas. Mencari jalan keluar, memecahkan masalah, berpikir secara terbalik dan di luar kotak adalah sisi kreativitas yang sering dan harus muncul dalam proses belajar.

          Menemukan hal baru tentu saja tidak cukup dengan sekali saja berusaha, perlu mencoba berulangkali. Jadi kesalahan adalah hal yang sangat lumrah dalam belajar. Dari kesalahanlah kita bisa belajar.

          Jadi, anak melakukan kesalahan dalam proses belajar adalah manusiawi. Guru sebaiknya membantu anak memahami kesalahan dan mencari jalan untuk menemukan hal yang benar. Ini bukan hanya bisa  menjaga harga diri anak, tetapi juga membuat anak terus termotivasi untuk belajar. Juga bisa mengajarkan anak untuk tidak mudah menyerah.

          Dengan terus mencoba, berarti belajar bersifat dinamis. Belajar tidak terpaku pada materi yang ada dalam kurikulum. Materi bisa melebar ataupun mendalam sesuai dengan potensi dan hal-hal baru yang menarik yang ditemukan murid. Dinamis juga dapat diartikan dalam belajar banyak menggunakan metode sehingga belajar tidak membosankan. Anak mendapatkan beragam pengalaman belajar.  Intinya belajar harus menggairahkan.

            Bagaimana belajar bisa menyenangkan? Sebagai orang yang berinteraksi dengan anak, guru harus bisa melepaskan semua ketegangan anak. Guru tidak ragu bercanda dan bermain-main, lebih terbuka, dekat, dan akrab dengan mereka. Menanyakan kabar atau ngobrol tentang kegemaran bisa jadi salah satu caranya.

          Setting kelas juga jadi hal yang penting. Kelas yang penuh hiasan bisa menambah gairah anak dalam belajar. Poster, tulisan, dan ikon penyemangat  dapat dijadikan hiasan kelas.

 

SIGM memandang anak itu.....

Ù Unik

          Unik karena punya latar belakang sosial budaya yang tidak sama, minat dan keinginan yang berbeda, sifat dan karakter yang beraneka, serta beragam perbedaan lainnya.

 

Ù Semuanya cerdas dan mempunyai potensi untuk berkembang

          Cara pandang ini diyakini penting. Guru mempunyai harapan dan memandang bahwa setiap anak mampu, sehingga anak merasa diperlakukan sama dan sederajat.

 

Ù Sebagai individu yang mempunyai kebutuhan untuk merasa:

          µ aman dan nyaman

          µ bernilai

          µ dihargai

          µ dipahami, dan

          µ dicintai

 

Oleh karena itu, falsafah mengajar di SIGM adalah....

P Belajar itu penting dan menyenangkan

P Anak patut dihargai dan disayang sebagai pribadi yang unik

P Anak menjadi pembelajar yang aktif

P Anak perlu merasa nyaman

P Anak harus mempunyai rasa memiliki dan kebanggaan di dalam kelas

P Anak memang harus menghormati guru, namun sekaligus bisa dekat dan

     akrab

P Guru harus kompeten, tetapi tidak harus sempurna

P Kerjasama lebih baik daripada kompetisi

P Pengalaman belajar hendaknya dekat dengan pengalaman dunia nyata

 

 

jadi belajar di SIGM bukan hanya MENGGAIRAHKAN, MENANTANG,DINAMIS, DAN MENYENANGKAN, tetapi juga harus BERMAKNA!

 

Kami menyebutnya model pembelajaran FUN AND DISCOVERY LEARNING